Sang Presiden
Surya di ufuk barat telah menutup
diri
Para anak kecil bergerombol
membanjiri tugu ibu pertiwi
Suara menggelegar terdengar di
berbagai sisi
Bagai kicauan burung nuri
Menyabut kehadiran orang yang di
nanti-nati
Wahai Presiden ku...
Kini kita menjadi saksi bisu mu
Kedua mata ini memincing menatap
kesederhanaan mu
Sosok yang hanya dibaluti kain tipis
Telinga ini memanjang mendengar
kata-kata mu yang manis
Berharap bukan sekedar omong kosong
Kini kau bukan hanya milik Solo
maupun Jakarta
Tapi bangsa ini telah meminang mu
Akankah kau merubah negeri yang telah
porak-poranda ini?
Atau akankah kau hanya duduk manis di
istana mu
Bak seorang RAJA?
SA,
22 Oktober 2014

No comments:
Post a Comment