Saturday, November 8, 2014

Untuk Mu... Presiden Ku...



Sang Presiden

Surya di ufuk barat telah menutup diri
Para anak kecil bergerombol membanjiri tugu ibu pertiwi
Suara menggelegar terdengar di berbagai sisi
Bagai kicauan burung nuri
Menyabut kehadiran orang yang di nanti-nati

Wahai Presiden ku...
Kini kita menjadi saksi bisu mu
Kedua mata ini memincing menatap kesederhanaan mu
Sosok yang hanya dibaluti kain tipis
Telinga ini memanjang mendengar kata-kata mu yang manis
Berharap bukan sekedar omong kosong

Kini kau bukan hanya milik Solo maupun Jakarta
Tapi bangsa ini telah meminang mu
Akankah kau merubah negeri yang telah porak-poranda ini?
Atau akankah kau hanya duduk manis di istana mu
Bak seorang RAJA?
SA, 22 Oktober 2014

No comments:

Post a Comment